Belajar Matematika, Belajar Soal Bangsa
Belajar Matematika, Belajar Soal Bangsa
Oleh: Didit Putra Erlangga Rahardjo
Sebuah
foto yang menampilkan halaman pekerjaan rumah seorang siswa sekolah
dasar diunggah di akun Facebook milik Muhammad Erfas Maulana pada 18
September. Buku tersebut milik adiknya bernama Habibi yang tengah
mengerjakan pekerjaan rumah terkait dengan perkalian, tetapi penuh
dengan coretan tinta merah dan nilai 20. Artinya, jawabannya hanya benar
dua dari 10 soal.
Dalam lembar tersebut terdapat pesan Erfas kepada guru adiknya,
mempertanyakan alasan sampai harus menjatuhkan nilai 20. Penyebabnya,
dia membantu mengajari adiknya menyelesaikan perkalian sederhana 4 + 4 +
4 + 4 + 4 + 4 dan dijawab 4 x 6 dan hasilnya 24. Ternyata, oleh
gurunya, perkalian tersebut dianggap salah dan seharusnya dijawab dengan
6 x 4.
Hal serupa terjadi di nomor- nomor selanjutnya, perkalian dari 6 + 6 +
6 + 6 + 6 + 6 + 6 yakni 6 x 7 kembali disalahkan, seharusnya memakai
perkalian 7 x 6. Dua nomor yang benar karena kebetulan memakai angka
yang sama, 4 x 4 dan 8 x 8.
Foto tersebut beredar secara luas. Dari akunnya saja sudah dibagi
sebanyak 6.300 kali dan disebar hingga ke media sosial lain, seperti
Twitter dan Path. Muncul perdebatan, sebagian mendukung Erfas yang
mengajari adiknya untuk menggunakan jalan lain untuk mencapai hasil
perhitungan, sedangkan ada pula yang menyalahkannya karena tidak tertib
pada proses.
Seorang pengguna Twitter dengan akun @babyrany juga mengungkapkan
pengalaman yang sama. Dia mengajari perkalian dengan cara yang sama yang
dipakai Erfas dan menghadapi kejadian serupa, 4 x 2 sama dengan 4 + 4,
tetapi dianggap salah, sementara jawaban yang diminta adalah 2 + 2 + 2 +
2.
Pendapat yang berbeda dilontarkan akun @OomYahya yang menyebut apa
yang diajarkan para guru sebagai konsep dasar yang sudah banyak
dilupakan. Dalam matematika, perkalian 3 x 7 adalah 7 + 7 + 7, bukan 3 +
3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3.
Senada dengan hal tersebut, akun @iwanpranoto milik ahli matematika
dari Institut Teknologi Bandung, Prof Dr Iwan Pranoto, menjelaskan bahwa
bentuk yang diminta para guru untuk mengajari para murid agar paham
mengenai perkalian. Dia mencontohkan perkalian 3 x 4 di buku matematika
sekolah di Singapura yang dijelaskan dengan "tiga buah empatan".
Namun, Iwan juga khawatir bahwa para guru salah dalam bertanya atau
cara mengoreksi tugas. Apabila menanyakan hasil perkalian 3 x 4 tanpa
instruksi lain, artinya sama saja membebaskan para anak untuk menjawab
sesuai pengertian mereka.
"Pertanyaan guru seharusnya begini ’Jika 2 x 3 = 3 + 3, tentukan 3 x
4’. Jika dg pertanyaan ini anak jawabnya 3 + 3 + 3 + 3, barulah
SALAHKAN," kicaunya.
Meskipun tampak sepele, lembar pekerjaan rumah Habibi bisa menjadi
potret pendidikan di Indonesia. Masih banyak ditemukan dogma dan tidak
membebaskan para murid untuk bernalar sendiri.
Share !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar