Definisi
dan Teori Pembelajaran
Pembelajaran
merupakan terjemahan dari kata”Instruction” yang dalam bahasa Yunani
disebut “Instructus” atau Instruere” yang berarti menyampaikan
pikiran. Dengan demikian, arti instruksional adalah penyampaian pikiran atau
ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran.
Istilah “Instruction” banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi
kognitif holistic, yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan.
Selain itu, istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang
diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat berbagai
macam media, seperti bahan-bahan cetak, program televisi, gambar, audio, dan
lain sebagainya, sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peranan guru
dalam mengelola proses belajar mengajar (Winaya Sanjaya, 103:
2008).
Pembelajaran atau learning
menurut Robert S. Zais (1976: 246) adalah: (1) Relatively
permanent changein human potentiality occurs as a result of reinforced
practice, (2) A change in human disposition or capability wich can be retained
and wich is not simply ascribable to the procecc of growth. Berdasarkan rumusan di atas, ada 3 (tiga) hal
yang dapat diperhatikan dalam proses pembelajaran, pertama, balajar
menghasilkan perubahan tingkah laku peserta didik yang relatif permanen.
Artinya peran pendidik seperti guru dan dosen adalah sebagai prilaku perubahan.
Kedua, peserta didik memiliki
potensi dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan
tanpa henti. Dengan demikian, proses pembelajaran optimalisasi potensi diri
sehingga dicapailah kualitas yang ideal. Ketiga, perubahan atau pencapaian ideal itu tidak
tumbuh alami linier sejalan proses kehidupan, artinya proses belajar mengajar
memang merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri, tetapi ia didesain secara
khusus dan diniati demi tercapainya kondisi atau kualitas ideal seperti
tersebut di atas. Jadi yang dimaksud dengan proses pembelajaran itu mencakup
bimbingan yang dilakukan oleh guru yang secara sengaja dan terencana dengan
melibatkan peserta didik secara aktif untuk mencapai tujuan pengajaran atau
kompetensi yang telah ditetapkan, dengan mengoptimalkan seluruh potensi diri
guna tercapainya perubahan pada diri peserta didik.
Dalam
pendekatan pembelajaran terdapat 2 (dua) madzab (aliran) besar yang
mempengaruhi paradigma pendidikan, yaitu aliran behaviorisme dan kontruktivisme,
di samping aliran yang berusaha mensintesiskan antara behaviorisme dan
kontruktivisme.
Pendekatan
behavioristik yang dikembangkan dari psikologi behaviorisme memandang bahwa
belajar adalah mengubah prilaku siswa dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak
mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah mengontrol stimulus dan
lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang diinginkan. Guru
pemberi hadiah dan hukuman pada siswa. Hadiah diberikan kepada siswa yang telah
mampu memperlihatkan perubahan bermakna, sedangkan hukuman diberikan pada siswa
yang tidak mampu memperlihatkan perubahan yang bermakna.
Dalam pelaksanaan pembelajaran aliran
behaviorisme memberi andil melahirkan pembelajaran pasif, yakni guru
menerangkan murid mendengarkan, guru mendiktekan murid mencatat, guru bertanya
murid menjawab dan seterusnya. Paulo Freire menyebutnya dengan
pendidikan gaya bank, yaitu pendidikan model deposito, guru sebagai
deposan yang mendepositokan pengetahuan serta berbagai pengalamannya pada siswa,
siswa hanya menerima, mencatat, dan memfilekan semua yang disampaikan guru.
Aliran behaviorisme dalam memahami pembelajaran lebih menekankan terhadap
timbulnya prilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur.Tokoh-tokoh utamanya di
antaranya Edward L. Thorndike, Ivan Pavlov, dan B.F. Skiner.Edward L.
Thorndike melahirkan teori Koneksionisme yang disebut juga S-R
Bond Theory dan Trial and Error Learning. Menurut teori ini belajar
adalah hubungan antara Stimulus dan Respon.
Ivan
Pavlov merumuskan teori Pembiasaan Klasikal (Clasical
Conditioning). Teori ini melahirkan sebuah prosedur penciptaan refleks baru
dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.
Selanjutnya B.F. Skiner mencetuskan teori Pembiasaan Prilaku
Respon (Operant Conditioning). Semua teori aliran
behaviorisme ini berdasarkan eksperimen terhadap hewan.
Aliran
behaviorisme ini mendapat kritikan keras dari penganut psikologi kognitif yang
lebih menekankan arti penting proses internal atau mental manusia yang
memandang bahwa tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan
diterangkan tanpa melibatkan proses mental seperti motivasi, kesengajaan,
keyakinan, dan lain-lain. Aliran Psikologi ini dalam pendidikan melahirkan
aliran Kontruktivistik. Tokoh-tokoh utamanya di antaranya Jean
Piaget, J. Bruner, D. Ausubel.
Aliran Kontruktivisme
yang dikembangkan dari psikologi kognitif memandang bahwa belajar adalah
mengembangkan berbagai strategi untuk mencatat dan memperoleh berbagai
informasi, siswa harus aktif menemukan informasi-informasi tersebut, dan guru
bukan mengontrol stimulus tetapi menjadi partner siswa dalam proses
penemuan berbagai informasi dan makna-makna dari informasi yang diperolehnya
dalam pembelajaran yang mereka bahas dan kaji bersama. Aliran Kontruktivisme menekankan
teorinya bahwa siswa amat berperan dalam menemukan ilmu baru. Aliran ini
mengembangkan pandangan tentang belajar yang menekankan pada 4 (empat) komponen
kunci, yaitu: (1) siswa membangun pemahamannya sendiri dari hasil mereka
belajar bukan karena disampaikan kepada mereka. (2) Pelajaran baru sangat
tergantung pada pelajaran sebelumnya, (3) belajar dapat ditingkatkan dengan
interaksi sosial, dan (4) penugasan-penugasan dalam belajar dapat meningkatkan
kebermaknaan proses pembelajaran.
Di tengah-tengah
derasnya kritik terhadap behaviristik, Kevin Wheldall dan Ted
Glynn mencoba menyintesiskan antara behavioristik dengan
kontruktivistik yang berbasis Psikologi Developmental (psikologi
perkembangan) dengan mengembangkan sebuah paradigma “Behavioral interactionits
approach to teach” dengan berargumentasi bahwa disadari
atau tidak para guru telah dan terus menerapkan prinsip-prinsip
behavioristik dalam pengembangan proses pembelajarannya di kelas, namun mereka
juga tidak mau tertinggal dengan berbagai perkembangan terbaru dalam
meningkatkan efektifitas pembelajaran.
Dari sudut pandang
lain, Gagne berpendirian bahwa belajar dipengaruhi oleh 2 (dua)
hal yaitu variabel dalam diri individu dan di luar diri individu yang saling
berinteraksi. Nampaknya pandangan ini bersifat elektis (perpaduan) dari
esensi pandangan behaviorisme dan kontruktivisme. Dengan pandangan elektisnya
itu Gagne, merinci proses belajar mengajar menjadi 8 (delapan)
proses belajar, yaitu:
1.
Belajar
isyarat (Signal Learning)
2.
Belajar
stimulus respon (Stimulus Responce Learning)
3.
Belajar
rangkaian (Chaining Learning)
4.
Belajar
asosiasi verbal (Verbal Association Learning)
5.
Belajar
pembedaan atau diskriminasi (Discrimination Learning)
6.
Belajar
konsep (Concept Learning)
7.
Belajar
hukum atau aturan (Rule Learning) dan
8.
Belajar
pemecahan masalah (Problem Solving Learning)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar