Trending

Sabtu, 23 Agustus 2014

DEFINISI DAN TEORI PEMBELAJARAN



Definisi dan Teori Pembelajaran
                   Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata”Instruction” yang dalam bahasa Yunani disebut “Instructus” atau Instruere” yang berarti menyampaikan pikiran. Dengan demikian, arti instruksional adalah penyampaian pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran.
Istilah “Instruction  banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif holistic, yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan. Selain itu, istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media, seperti bahan-bahan cetak, program televisi, gambar, audio, dan lain sebagainya, sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peranan guru dalam mengelola proses belajar mengajar (Winaya Sanjaya, 103: 2008).
            Pembelajaran atau learning menurut Robert S. Zais (1976: 246) adalah: (1) Relatively permanent changein human potentiality occurs as a result of reinforced practice, (2) A change in human disposition or capability wich can be retained and wich is not simply ascribable to the procecc of growth.  Berdasarkan rumusan di atas, ada 3 (tiga) hal yang dapat diperhatikan dalam proses pembelajaran, pertama, balajar menghasilkan perubahan tingkah laku peserta didik yang relatif permanen. Artinya peran pendidik seperti guru dan dosen adalah sebagai prilaku perubahan. Kedua,  peserta didik memiliki potensi dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan tanpa henti. Dengan demikian, proses pembelajaran optimalisasi potensi diri sehingga dicapailah kualitas yang ideal. Ketiga,  perubahan atau pencapaian ideal itu tidak tumbuh alami linier sejalan proses kehidupan, artinya proses belajar mengajar memang merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri, tetapi ia didesain secara khusus dan diniati demi tercapainya kondisi atau kualitas ideal seperti tersebut di atas. Jadi yang dimaksud dengan proses pembelajaran itu mencakup bimbingan yang dilakukan oleh guru yang secara sengaja dan terencana dengan melibatkan peserta didik secara aktif untuk mencapai tujuan pengajaran atau kompetensi yang telah ditetapkan, dengan mengoptimalkan seluruh potensi diri guna tercapainya perubahan pada diri peserta didik.
            Dalam pendekatan pembelajaran terdapat 2 (dua) madzab (aliran) besar yang mempengaruhi paradigma pendidikan, yaitu aliran behaviorisme dan kontruktivisme, di samping aliran yang berusaha mensintesiskan antara behaviorisme dan kontruktivisme.
            Pendekatan behavioristik yang dikembangkan dari psikologi behaviorisme memandang bahwa belajar adalah mengubah prilaku siswa dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah mengontrol stimulus dan lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang diinginkan. Guru pemberi hadiah dan hukuman pada siswa. Hadiah diberikan kepada siswa yang telah mampu memperlihatkan perubahan bermakna, sedangkan hukuman diberikan pada siswa yang tidak mampu memperlihatkan perubahan yang bermakna.
Dalam pelaksanaan pembelajaran aliran behaviorisme memberi andil melahirkan pembelajaran pasif, yakni guru menerangkan murid mendengarkan, guru mendiktekan murid mencatat, guru bertanya murid menjawab dan seterusnya. Paulo Freire menyebutnya dengan pendidikan gaya bank, yaitu pendidikan model deposito, guru sebagai deposan yang mendepositokan pengetahuan serta berbagai pengalamannya pada siswa, siswa hanya menerima, mencatat, dan memfilekan semua yang disampaikan guru. Aliran behaviorisme dalam memahami pembelajaran lebih menekankan terhadap timbulnya prilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur.Tokoh-tokoh utamanya di antaranya Edward L. Thorndike, Ivan Pavlov, dan B.F. Skiner.Edward L. Thorndike melahirkan teori Koneksionisme yang disebut juga S-R Bond Theory dan Trial and Error Learning. Menurut teori ini belajar adalah hubungan antara Stimulus dan Respon.
            Ivan Pavlov merumuskan teori Pembiasaan Klasikal (Clasical Conditioning). Teori ini melahirkan sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Selanjutnya B.F. Skiner mencetuskan teori Pembiasaan Prilaku Respon (Operant Conditioning). Semua teori aliran behaviorisme ini berdasarkan eksperimen terhadap hewan.
            Aliran behaviorisme ini mendapat kritikan keras dari penganut psikologi kognitif yang lebih menekankan arti penting proses internal atau mental manusia yang memandang bahwa tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan lain-lain. Aliran Psikologi ini dalam pendidikan melahirkan aliran Kontruktivistik. Tokoh-tokoh utamanya di antaranya Jean Piaget, J. Bruner, D. Ausubel.
            Aliran Kontruktivisme yang dikembangkan dari psikologi kognitif memandang bahwa belajar adalah mengembangkan berbagai strategi untuk mencatat dan memperoleh berbagai informasi, siswa harus aktif menemukan informasi-informasi tersebut, dan guru bukan mengontrol stimulus tetapi menjadi partner siswa dalam proses penemuan berbagai informasi dan makna-makna dari informasi yang diperolehnya dalam pembelajaran yang mereka bahas dan kaji bersama. Aliran Kontruktivisme menekankan teorinya bahwa siswa amat berperan dalam menemukan ilmu baru. Aliran ini mengembangkan pandangan tentang belajar yang menekankan pada 4 (empat) komponen kunci, yaitu: (1) siswa membangun pemahamannya sendiri dari hasil mereka belajar bukan karena disampaikan kepada mereka. (2) Pelajaran baru sangat tergantung pada pelajaran sebelumnya, (3) belajar dapat ditingkatkan dengan interaksi sosial, dan (4) penugasan-penugasan dalam belajar dapat meningkatkan kebermaknaan proses pembelajaran.
            Di tengah-tengah derasnya kritik terhadap behaviristik, Kevin Wheldall dan Ted Glynn mencoba menyintesiskan antara behavioristik dengan kontruktivistik yang berbasis Psikologi Developmental (psikologi
perkembangan) dengan mengembangkan sebuah paradigma “Behavioral interactionits approach to teach” dengan berargumentasi bahwa disadari
atau tidak para guru telah dan terus menerapkan prinsip-prinsip behavioristik dalam pengembangan proses pembelajarannya di kelas, namun mereka juga tidak mau tertinggal dengan berbagai perkembangan terbaru dalam meningkatkan efektifitas pembelajaran.
            Dari sudut pandang lain, Gagne berpendirian bahwa belajar dipengaruhi oleh 2 (dua) hal yaitu variabel dalam diri individu dan di luar diri individu yang saling berinteraksi. Nampaknya pandangan ini bersifat elektis (perpaduan) dari esensi pandangan behaviorisme dan kontruktivisme. Dengan pandangan elektisnya itu Gagne, merinci proses belajar mengajar menjadi 8 (delapan) proses belajar, yaitu:
1.       Belajar isyarat  (Signal Learning)
2.       Belajar stimulus respon (Stimulus Responce Learning)
3.       Belajar rangkaian (Chaining Learning)
4.       Belajar asosiasi verbal (Verbal Association Learning)
5.       Belajar pembedaan atau diskriminasi (Discrimination Learning)
6.       Belajar konsep (Concept Learning)
7.       Belajar hukum atau aturan (Rule Learning) dan
8.       Belajar pemecahan masalah (Problem Solving Learning)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Designed By Blogger Templates - Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger