Belajar dan
Pembelajaran Bermakna
Belajar pada
hakikatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa
kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap
dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau
pengalaman.
Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu
proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak
dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika
dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak.
Proses belajar individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam
diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.
Belajar bermakna (meaningfull
learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada
konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar yang ditandai oleh
terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi
baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa.
Proses belajar tidak sekedar menghapal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka,
tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan
pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik
dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka
guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah
dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut
dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.
Menurut Ausubel (1963), “kebermaknaan
suatu pembelajaran sangat dipengaruhi oleh sedikitnya 3 faktor, yaitu struktur
kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan
dalam suatu bidang studi tertentu ada pada waktu tertentu”. Sementara itu, Dahar
(1996: 116) mengemukakan dua prasyarat terjadinya belajara bermakna, yaitu (1)
materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial, dan (2) anak yang
akan belajar harus bertujuan belajar bermakna (Dahar, 1996: 116).
Kebermaknaan potensial materi pelajaran bergantung
kepada 2 faktor, yaitu (1) materi itu harus memiliki kebermaknaan logis dan (2)
gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif peserta
didik (Dahar, 1996: 116).
Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna
jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih
banyak indera dari pada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar