1.
Pengantar
Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan
ilmiah dalam pembelajaran, karena,
diyakini pendekatan ilmiah sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan
sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik, dinyatakan bahwa untuk
jenjang SMP dan SMA atau yang sederajat pelaksanaan proses pembelajaran
menggunakan pendekatan ilmiah (SCIENTIFIC APPROACH). Proses
pembelajaran pada pendekatan ini menyentuh tiga ranah belajar, yaitu: sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.
Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan
ilmiah, ranah sikap menyentuh
transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.” Ranah
keterampilan menyentuh
transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan
menyentuh transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu
apa.”
Hasil akhirnya adalah diharapkan peserta didik mampu melakukan peningkatan
dan keseimbangan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan
manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard
skills ) yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.
2. Pendekatan dalam Pembelajaran
Pendekatan
ilmiah dalam pembelajaran meliputi: mengamati,
menanya, menalar,
mencoba, mengolah,
menyajikan, menyimpulkan,
dan mencipta
untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah
ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti
ini, proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat
ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Langkah-langkah
pembelajaran dengan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sebagai berikut.
1)
Mengamati
Metode mengamati
mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek
secara nyata dengan tujuan agar peserta didik senang dan tertantang, serta
memudahkan pelaksanaannya. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dapat
dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut,
a. Menentukan objek apa yang akan diobservasi;
b. Membuat pedoman observasi sesuai
dengan lingkup objek yang akan diobservasi;
c. Menentukan secara jelas
data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder;
d. Menentukan di mana tempat objek yang akan
diobservasi;
e.
Menentukan
secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar
berjalan mudah dan lancar;
f.
Menentukan
cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti menggunakan buku
catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.
2)
Menanya
Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta
didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau
memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan
peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi
penyimak dan pembelajar yang baik. Pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh
tanggapan verbal. Istilah pertanyaan tidak selalu melalui bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dalam
bentuk “pernyataan” asal kedua menginginkan tanggapan verbal.
Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif?
Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri
kalimat efektif!
a.
Fungsi
bertanya
§ Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan
perhatian peserta didik tentang suatu
tema atau topik pembelajaran.
§ Mendorong dan menginspirasi peserta didik
untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya
sendiri.
§ Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik
sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.
§ Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untukmenunjukkan sikap, keterampilan, dan
pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
§ Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam
berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis,
dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
§ Mendorong partisipasi peserta didik dalam
berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik
simpulan.
§ Membangun sikap keterbukaan untuk saling
memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta
mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
§ Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan
cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
§ Melatih kesantunan dalam berbicara dan
membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.
a. Kriteria Pertanyaan yang Baik
§ Singkat
dan jelas.
Contoh:
(1) Seberapa jauh
pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat
kasus narkotika dan obat-obatan terlarang?
(2) Faktor-faktor apakah
yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan
terlarang?
Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan
pertama.
§ Menginspirasi
jawaban.
Contoh:
Membangun semangat kerukunan umat beragama itu
sangat penting pada bangsa yang multiagama. Jika suatu bangsa gagal membangun
semangat kerukukan beragama, akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan.
Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang
muncul, jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?
Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka
merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta
menjawab pertanyaan.
§ Memiliki
fokus.
Contoh:
Faktor-faktor apakah yang
menyebabkan terjadinya kemiskinan?
Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing
peserta didik diminta memunculkan satu jawaban.
Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab:
kebodohan, kemalasan, tidak memiliki modal usaha, kelangkaan sumber daya alam,
dan keterisolasian geografis. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain,
peserta didik yang keenam dan seterusnya, bisa dimintai jawaban.
Pertanyaan yang
luas seperti di atas dapat dipersempit, misalnya:
Mengapa kemalasan menjadi
penyebab kemiskinan?
Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara
perorangan.
§ Bersifat
probing atau divergen.
Contoh:
(1) Untuk
meningkatkan kualitas hasil belajar, apakah peserta didik harus rajin belajar?
(2) Mengapa peserta didik
yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah?
Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh peserta didik dengan Ya atau Tidak.
Sebaliknya,
pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan
penjelasannya, yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama.
§ Bersifat
validatif atau penguatan.
Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada
peserta didik yang berbeda untuk
menjawab pertanyaan yang sama. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan
penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. Ketika beberapa orang peserta
didik telah memberikan jawaban yang sama, sebaiknya guru menghentikan
pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda,
namun sifatnya menguatkan.
Contoh:
o
Guru : “mengapa kemalasan
menjadi
penyebab
kemiskinan”?
o
Peserta
didik I : “karena orang yang
malas lebih banyak
diam
ketimbang bekerja.”
o
Guru : “siapa yang dapat
melengkapi jawaban
tersebut?”
o
Peserta
didik II : “karena lebih banyak
diam ketimbang
bekerja,
orang yang malas tidak
produktif”
o
Guru :
“siapa yang dapat melengkapi jawaban
tersebut?”
o
Peserta
didik III : “orang malas tidak
bertindak aktif,
sehingga
kehilangan waktu terlalu
banyak
untuk bekerja, karena itu dia
tidak
produktif.”
o
dan
seterusnya
§ Memberi
kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang.
Untuk
menjawab pertanyaan dari guru, peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk
memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. Karena itu, setelah
mengajukan pertanyaan, guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta
atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu.
Jika
dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan
baik, sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. Misalnya: (1) Apa faktor
picu utama Belanda menjajah Indonesia?; (2) Apa motif utama Belanda menjajah
Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang
memuaskan, ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua.
§ Merangsang
peningkatan tuntutan kemampuan kognitif.
Pertanyaan
guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan
berpikir yang makin meningkat, sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. Guru
mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif
rendah ke makin tinggi, seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang
menggugah kemampuan kognitif yang lebih
tinggi, seperti pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Kata-kata kunci pertanyaan ini, seperti: apa, mengapa, bagaimana, dan
seterusnya.
§ Merangsang
proses interaksi.
Pertanyaan
guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri
peserta didik. Dalam kaitan ini, setelah menyampaikan pertanyaan, guru
memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. Setelah
itu, guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik
diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pola bertanya seperti
ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul.
1)
Menalar
Istilah aktivitas menalar
dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak
merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah
asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide
dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi
penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak,
pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain.
Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan
berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu
dikenal sebagai asosiasi atau menalar.
Menalar secara induktif adalah proses penarikan
simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik
menjadi simpulan yang bersifat umum. Kegiatan
menalar secara induktif lebih banyak
berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik.
Menalar secara deduktif merupakan cara menalar
dengan menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat
umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Pola penalaran deduktif dikenal
dengan pola silogisme. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal
yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya
yang khusus.
2)
Analogi dalam
Pembelajaran
Selama proses
pembelajaran, guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang
bersifat analog atau memiliki persamaan. Dengan demikian, guru dan peserta
didik adakalanya menalar secara analogis. Analogi adalah suatu proses penalaran
dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai
kesamaan atau persamaan.
3)
Hubungan antar fenomena
Hubungan antar fenomena
akan mempertajam daya nalar peserta didik. Di sinilah esensi bahwa guru dan
peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala,
khususnya hubungan sebab-akibat.
Hubungan sebab-akibat
diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan satu
atau beberapa fakta yang lain. Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau
beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satu atau beberapa fakta
tersebut.
Pendekatan ilmiah dapat
dilaksanakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran
kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih
dari sekadar teknik pembelajaran di kelas. Kolaborasi esensinya merupakan
filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai
kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan
disengaja untuk memudahkan usaha
kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pada pembelajaran kolaboratif
kewenangan dan fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar,
sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif.
6) Mencoba
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau
otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk
materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran Bahasa, misalnya,
peserta didik harus memahami konsep-konsep penggunaan bahasa yang baik dan
benar dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus
memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam
sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk
memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Aplikasi metode eksperimen atau mencoba
dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap,
keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini
adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut
tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang
tersedia dan harus disediakan; (3) mempelajari dasar teoritis yang relevan dan
hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5)
mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data; (6) menarik
simpulan atas hasil percobaan; dan (7) membuat laporan dan mengkomunikasikan
hasil percobaan.
Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya
merumuskan tujuan eksperimen yang akan dilaksanakan murid; (2)
Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan; (3)
Perlu memperhitungkan tempat dan waktu; (4) Guru menyediakan kertas
kerja untuk pengarahan kegiatan murid; (5) Guru membicarakan
masalah yang akan yang akan dijadikan eksperimen; (6) Membagi kertas
kerja kepada murid; (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan
bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan
mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.
1.
Penerapan Pendekatan Saintifik dalam
Pembelajaran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas/Semester : X/1
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Topik : Komunikasi dalam Kehidupan
Pertemuan Ke- :
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran
A. Kompetensi Inti
1.
Menghayati dan mengamalkan
ajaran agama yang dianutnya.
2.
Menghayati dan mengamalkan
perlaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama,
toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai
bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia.
3.
Memahami, menerapkan,
menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kemanusiaan, kebangsaan, kenegaran, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan mintanya
untuk memecahkan masalah.
4.
Mengolah, menalar dan menyaji
dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.
B. Kompetensi Dasar
3.1 Mensyukuri
anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannnya sesuai
dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa
3.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun dalam
menggunakan bahasa Indonesia untuk membuat anekdot mengenaipermasalahan sosial,
lingkungan, dan kebijakan publik
3.3 Memahami struktur dan kaidah teks anekdot,
laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi baik melalui lisan
maupun tulisan.
3.4 Menginterpretasi makna teks anekdot, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan
negosiasi baik secara lisan maupun tulisan
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
a.
Menggunakan bahasa Indonesia
sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa
b.
Memiliki sikap tanggung jawab peduli, responsif, dan santun dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk
membuatanekdot baik melalui lisan maupun tulisan dengan kreatif
c.
Mengidentifikasi struktur dan kaidah
pembuatan anekdot dalam bahasa bahasa Indonesia baik secara lisan maupun
tulisan
d.
Menyusun dengan tepat teks anekdot baik secara
lisan maupun tulisan dengan tepat.
D. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran siswa dapat mensyukuri anugerah Tuhan akan
keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannnya dalam menyusun anekdot sesuai dengan kaidah dan konteks
untuk mempersatukan bangsa.
E. Materi Pembelajaran
· Ragam (Bentuk) Bahasa
a. Bahasa lisan meliputi:
-
Ragam bahasa cakapan
-
Ragam bahasa pidato
-
Ragam bahasa kuliah
-
Ragam bahasa panggung
Ciri-ciri bahasa lisan:
-
langsung;
-
tidak terikat ejaan tetapi terikat situasi
pembicaraan
-
tidak efektif
-
kalimatnya pendek-pendek
-
kalimat sering terputus- tidak lengkap
-
lagu kalimat situasional
b.
Bahasa tulisan meliputi:
-
ragam bahasa teknis;
-
ragam bahasa undang-undang;
-
ragam bahasa catatan; dan
-
ragam bahas surat.
Ciri-ciri ragam bahasa tulis:
-
santun;
-
efektif;
-
bahasa disampaikan sebagai upaya komunikasi
satu pihak;
-
ejaan digunakan sebagai pedoman; dan
-
penggunaan kosa-kata pada dasarnya sudah
dibakukan.
·
Kaidah Bahasa Indonesia
a. Ejaan
dan pungtuasi
b. Kata
baku dan tidak baku
·
Pengertian dan konsep anekdot
·
Penggunaan Bahasa Indonesia sesuai dengan
konteks
F. Alokasi waktu
2 x 45
Menit
G. Strategi/Metode/Pendekatan Pembelajaran
a.
Model Pembelajaran Saintifik
b.
Metode: eksplorasi, elaborasi, konfirmasi.
A. Kegiatan Pembelajaran
KEGIATAN
|
DESKRIPSI
KEGIATAN
|
ALOKASI
WAKTU
|
Pendahuluan
|
1.
Siswa merespon salam dan pertanyaan dari guru
berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya.
2.
Siswa menerima informasi tentang keterkaitan
pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
3.
Siswa menerima informasi kompetensi, materi,
tujuan, dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.
|
Inti
|
1. Siswa mendapatkan fotokopi anekdot dan nego- siasi dari koran yang dibagikan guru.
2. Siswa mencermati penggunaan bahasa dan kaidah
penulisan anekdot dan negosiasi pada koran
3. Siswa menganalisis penggunaan kaidah bahasa
Indonesia dalam tulisan tersebut.
4. Siswa mengidentifikasi kata atau kalimat yang
tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
5. Siswa merespon pertanyaan
tentang hal-hal yang berhubungan dengan penggunaan kaidah bahasa Indonesia.
6. Siswa mengamati dan mendata objek yang akan dijadikan bahan tulisan.
7. Siswa menuliskan hasil pengamatan ke dalam rubrik yang telah disediakan tentang
penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah dan
konteks
8. Siswa mempresentasikan melalui permainan peran,
kemudian saling
mengoreksi hasil presentasi tersebut dengan memberikan saran
perbaikan untuk penyempurnaan.
9. Siswa memperbaiki hasil
tulisan berdasarkan saran dari kelompok lain
sesuai dengan rubrik yang diberikan oleh guru.
10. Bersama guru, siswa
mengidentifikasi hambatan yang dialami saat menulis.
11. Siswa menyimak umpan balik dari guru atas pernyataan mereka tentang hambatan dalam menulisdan hasil observasi guru pada saat siswa berdiskusi.
12. Siswa menyempurnakan
kembali hasil tulisannya berdasarkan umpan balik dari kelompok lain dan guru.
13. Guru memberikan penghargaan terhadap tulisan yang
terbaik dari kelompok.
|
Kegiatan Penutup
|
1.
Siswa bersama guru
menyimpulkan pembelajaran
2.
Siswa melakukan refleksi
terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.
3.
Siswa dan guru merencanakan tindak lanjut pembelajaran untuk pertemuan
selanjutnya.
|
A. SUMBER/MEDIA PEMBELAJARAN
a. Sumber :
b. Media : Poster, anekdot
dalam surat kabar
B. Penilaian Proses dan Hasil Belajar
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik Penilaian
|
Bentuk Instrumen
|
a. Menggunakan bahasa
Indonesia sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa
|
Penilaian
Observasi
|
Lembar
penilaian sikap
|
b. Memiliki sikap tanggung
jawab] peduli, responsif, dan santun dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk
membuat anekdot baik melalui lisan maupun tulisan dengan kreatif
|
1. Penilaian Observasi
kinerja penulisan laporan.
|
1.
Tes tertulis.
2.
Rubrik penilaian kinerja.
|
c. Mengidentifikasi struktur dan kaidah pembuatan anekdot dalam bahasa
bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan
|
||
d. Menyusun dengan tepat teks anekdot baik secara lisan maupun tulisan.
|
1. Latihan menyusun teks
anekdot,.
|
1. Lembaran tugas latihan.
2. Rubrik penilaian latihan.
|
Lampiran 1 Lembar Pengamatan
LEMBAR PENGAMATAN SIKAP
Mata Pelajaran :.................................................................................
Kelas/Semester :.................................................................................
Tahun Ajaran :.................................................................................
Waktu Pengamatan:
...............................................................................
Bubuhkan tanda V pada kolom-kolom sesuai
hasil pengamatan.
No.
|
Nama Siswa
|
Penggunaan Diksi
|
Keefektifan Kalimat
|
Kesesuaian konteks
|
|||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1.
|
|||||||||||||
2.
|
|||||||||||||
3
|
|||||||||||||
4
|
|||||||||||||
5
|
|||||||||||||
Keterangan
1
= kurang
2
= sedang
3
= baik
4
= sangat baik
Lampiran
2: Lembar Pengamatan
LEMBAR PENGAMATAN PERKEMBANGAN
AKHLAK DAN KEPRIBADIAN
Mata Pelajaran
:................................................................................
Kelas/Semester:..................................................................................
Tahun Ajaran :..............................................................................
Waktu Pengamatan:
........................................................................
Karakter yang diintegrasikan dan dikembangkan adalah
kerja keras dan tanggung jawab.
Indikator perkembangan karakter kreatif, komunikatif, dan
kerja keras
1.
BT (belum tampak) jika sama sekali tidak menunjukkan usaha
sungguh-sungguh dalam menyelesaikan
tugas
2.
MT (mulai tampak) jika menunjukkan sudah ada usaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas tetapi masih
sedikit dan belum ajeg/konsisten
3.
MB (mulai berkembang) jika menunjukkan ada usaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas yang cukup sering dan mulai ajeg/konsisten
4.
MK (membudaya) jika menunjukkan adanya usaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas secara terus-menerus
dan ajeg/konsisten
Bubuhkan tanda V pada kolom-kolom sesuai
hasil pengamatan.
No.
|
Nama Siswa
|
Kreatif
|
Komunikatif
|
Kerja keras
|
|||||||||
BT
|
MT
|
MB
|
MK
|
BT
|
MT
|
MB
|
MK
|
BT
|
MT
|
MB
|
MK
|
||
1.
|
|||||||||||||
2.
|
|||||||||||||
3
|
|||||||||||||
4
|
|||||||||||||
5
|
|||||||||||||
6
|
|||||||||||||
7
|
|||||||||||||
10
|
|||||||||||||
Pedoman Peskoran
Aspek
|
Skor
|
Siswa menjawab pernyataan
benar dengan alasan benar
|
3
|
Siswa
menjawab pernyataan benar tapi tidak didukung oleh alasan benar
|
2
|
Siswa
menjawab pernyataan salah
|
1
|
SKOR MAKSIMAL
|
6
|
Soal
Nomor 2 dan 3
Rubrik penilaian
No.
|
Kriteria Penilaian
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Pilihan
kata
a. tepat dan sesuai
b. kurang tepat dan sesuai
c. tidak tepat dan sesuai
|
3
2
1
|
5
|
2.
|
Kalimat
a. mudah dipahami
b. sedikit sulit dipahami
c. sulit dipahami
|
2
1
0
|
3
|
3.
|
Ejaan dan
tanda baca
a. tidak ada yang salah
b. sedikit yang salah
c. banyak yang salah
|
2
1
0
|
2
|
Jakarta, Juni 2013
Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar