Trending

Jumat, 25 Juli 2014

PENDEKATAN ILMIAH (SCIENTIFIC APPROACH)



1.     Pengantar

Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran, karena, diyakini pendekatan ilmiah sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik, dinyatakan bahwa untuk jenjang SMP dan SMA atau yang sederajat pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah (SCIENTIFIC APPROACH). Proses pembelajaran pada pendekatan ini menyentuh tiga ranah belajar, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menyentuh transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.” Ranah keterampilan  menyentuh transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan menyentuh transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.” Hasil akhirnya adalah diharapkan peserta didik mampu melakukan peningkatan dan keseimbangan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills ) yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

2.     Pendekatan  dalam Pembelajaran

Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran meliputi: mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi  tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sebagai berikut.

1)  Mengamati

Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata dengan tujuan agar peserta didik senang dan tertantang, serta memudahkan pelaksanaannya. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut,
a. Menentukan objek apa yang akan diobservasi;
b. Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi;
c. Menentukan  secara jelas  data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder;
d.  Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi;
e.   Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar;
f.    Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.

2)       Menanya

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah pertanyaan tidak selalu melalui  bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dalam bentuk “pernyataan” asal kedua menginginkan tanggapan verbal.

Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif?
Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimat efektif!

a.   Fungsi bertanya
§   Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian  peserta didik tentang suatu tema  atau   topik pembelajaran.
 
§   Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
§    Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.
§   Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untukmenunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
§   Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
§   Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir,  dan menarik  simpulan.
§   Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
§   Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
§   Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.

a.   Kriteria Pertanyaan yang Baik
§   Singkat dan jelas.
Contoh: 
(1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang?
(2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama.

§   Menginspirasi jawaban.
Contoh:


Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama, akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan.
Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul, jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?

Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan.

§   Memiliki fokus.
Contoh:
Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan?
Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban.
Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan, kemalasan, tidak memiliki modal usaha, kelangkaan sumber daya alam, dan keterisolasian geografis. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain, peserta didik yang keenam dan seterusnya, bisa dimintai jawaban.

Pertanyaan  yang luas seperti di atas dapat dipersempit, misalnya:
Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan.

§   Bersifat probing atau divergen.
Contoh:
(1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar, apakah peserta didik harus rajin belajar?
(2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah?
       Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh  peserta didik dengan Ya atau Tidak.
       Sebaliknya, pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya, yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama.



§   Bersifat validatif atau penguatan.

Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik  yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. Jawaban atas pertanyaan itu  dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama, sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda, namun sifatnya menguatkan.

Contoh:
o  Guru                           : “mengapa kemalasan menjadi
                                       penyebab kemiskinan”?
o  Peserta didik I          : “karena orang yang malas lebih banyak
                                       diam ketimbang bekerja.”
o  Guru                           : “siapa yang dapat melengkapi jawaban
                                       tersebut?”
o  Peserta didik II         : “karena lebih banyak diam ketimbang
                                       bekerja, orang yang malas tidak
                                       produktif”
o  Guru                           : “siapa yang dapat melengkapi jawaban
                                       tersebut?”
o  Peserta didik III       : “orang malas tidak bertindak aktif,
                                       sehingga kehilangan waktu terlalu
                                       banyak untuk bekerja, karena itu dia
                                       tidak produktif.”
o  dan seterusnya

§   Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang.
Untuk menjawab pertanyaan dari guru, peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. Karena itu, setelah mengajukan pertanyaan, guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu.

Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik, sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?; (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan, ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua.

§   Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif.
Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat, sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi, seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif  yang lebih tinggi, seperti pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kata-kata kunci pertanyaan ini, seperti: apa, mengapa, bagaimana, dan seterusnya.

§   Merangsang proses interaksi.
Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik. Dalam kaitan ini, setelah menyampaikan pertanyaan, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. Setelah itu, guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul.

1)       Menalar

Istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar.

Menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan  yang bersifat umum. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak  berpijak pada observasi inderawi atau pengalaman empirik.

Menalar secara deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus.

2)       Analogi dalam Pembelajaran

Selama proses pembelajaran, guru dan pesert didik sering kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki persamaan. Dengan demikian, guru dan peserta didik adakalanya menalar secara analogis. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan.

3)       Hubungan antar fenomena

Hubungan antar fenomena akan mempertajam daya nalar peserta didik. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik dituntut mampu memaknai hubungan antarfenonena atau gejala, khususnya hubungan sebab-akibat.

Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan satu atau beberapa fakta yang satu dengan satu atau beberapa fakta yang lain. Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satu atau beberapa fakta tersebut.

Pendekatan ilmiah dapat dilaksanakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar teknik pembelajaran di kelas. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja  untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan dan fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif.


6)   Mencoba

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran Bahasa, misalnya, peserta didik harus memahami konsep-konsep penggunaan bahasa yang baik dan benar dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. 

Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan; (3) mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data; (6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7) membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.

Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yang akan dilaksanakan murid; (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan; (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu; (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid; (5) Guru membicarakan masalah yang akan yang akan dijadikan eksperimen; (6) Membagi kertas kerja kepada murid; (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.

1.       Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan             :  SMA
Kelas/Semester                   :  X/1
Mata Pelajaran                   :  Bahasa Indonesia
Topik                                      :  Komunikasi dalam Kehidupan
Pertemuan Ke-                    :
Alokasi Waktu                     :  2 jam pelajaran

A.     Kompetensi Inti
1.       Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2.       Menghayati dan mengamalkan perlaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3.       Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kemanusiaan, kebangsaan, kenegaran, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan mintanya untuk memecahkan masalah.
4.       Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B.     Kompetensi Dasar
3.1           Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannnya sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa
3.2   Menunjukkan sikap tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk membuat anekdot mengenaipermasalahan sosial, lingkungan, dan kebijakan publik
3.3 Memahami struktur dan kaidah teks anekdot, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi baik melalui lisan maupun tulisan.
3.4  Menginterpretasi makna teks anekdot, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi baik secara lisan maupun tulisan

C.     Indikator Pencapaian Kompetensi
a.   Menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa
b.   Memiliki sikap tanggung jawab peduli, responsif, dan santun dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk membuatanekdot baik melalui lisan maupun tulisan dengan kreatif
c.   Mengidentifikasi struktur dan kaidah pembuatan anekdot dalam bahasa bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan
d.   Menyusun dengan tepat teks anekdot baik secara lisan maupun tulisan dengan tepat.

D.     Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran siswa dapat mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannnya dalam menyusun  anekdot sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa.

E.     Materi Pembelajaran
·     Ragam (Bentuk) Bahasa
a.   Bahasa lisan meliputi:
-          Ragam bahasa cakapan
-          Ragam bahasa pidato
-          Ragam bahasa kuliah
-          Ragam bahasa panggung
    Ciri-ciri bahasa lisan:
-          langsung;
-          tidak terikat ejaan tetapi terikat situasi pembicaraan
-          tidak efektif
-          kalimatnya pendek-pendek
-          kalimat sering terputus-  tidak lengkap
-          lagu kalimat situasional

b.  Bahasa tulisan meliputi:
-          ragam bahasa teknis;
-          ragam bahasa undang-undang;
-          ragam bahasa catatan; dan
-          ragam bahas surat.
    Ciri-ciri ragam bahasa tulis:
-          santun;
-          efektif;
-          bahasa disampaikan sebagai upaya komunikasi satu pihak;
-          ejaan digunakan sebagai pedoman; dan
-          penggunaan kosa-kata pada dasarnya sudah dibakukan.

·      Kaidah Bahasa Indonesia
a.       Ejaan dan pungtuasi
b.       Kata baku dan tidak baku
·      Pengertian dan konsep anekdot
·      Penggunaan Bahasa Indonesia sesuai dengan konteks

F.     Alokasi waktu
2 x 45 Menit

G.    Strategi/Metode/Pendekatan Pembelajaran
a.        Model Pembelajaran Saintifik
b.       Metode: eksplorasi, elaborasi, konfirmasi.


A.     Kegiatan Pembelajaran

KEGIATAN
DESKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI WAKTU
Pendahuluan
1.    Siswa merespon salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya.
2.    Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
3.    Siswa menerima informasi kompetensi, materi, tujuan, dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.

 
Inti
1.    Siswa mendapatkan fotokopi anekdot dan nego- siasi dari koran yang dibagikan  guru.
2.    Siswa mencermati penggunaan bahasa dan kaidah penulisan anekdot dan negosiasi pada koran
3.    Siswa menganalisis penggunaan kaidah bahasa Indonesia dalam tulisan tersebut.
4.    Siswa mengidentifikasi kata atau kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
5.    Siswa merespon pertanyaan tentang hal-hal yang berhubungan dengan penggunaan kaidah bahasa Indonesia.
6.    Siswa mengamati dan mendata objek yang akan dijadikan bahan tulisan.
7.    Siswa menuliskan hasil pengamatan ke dalam rubrik yang telah disediakan tentang penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah dan konteks
8.    Siswa mempresentasikan melalui permainan peran, kemudian saling mengoreksi hasil presentasi tersebut dengan memberikan saran perbaikan untuk penyempurnaan.
9.    Siswa memperbaiki hasil tulisan berdasarkan saran dari kelompok lain sesuai dengan rubrik yang diberikan oleh guru.
10.    Bersama guru, siswa mengidentifikasi hambatan yang dialami saat menulis.
11.    Siswa menyimak umpan balik dari guru atas pernyataan mereka tentang hambatan dalam menulisdan hasil observasi guru pada saat siswa berdiskusi.
12.    Siswa menyempurnakan kembali hasil tulisannya berdasarkan umpan balik dari kelompok lain dan guru.
13.    Guru memberikan penghargaan terhadap tulisan yang terbaik dari kelompok.
Kegiatan Penutup
1.    Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran
2.    Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.
3.    Siswa dan guru merencanakan tindak lanjut pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya.

 
A.     SUMBER/MEDIA PEMBELAJARAN

a.     Sumber         :
b.     Media            : Poster, anekdot dalam surat kabar


B.     Penilaian Proses dan Hasil Belajar

Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
a.  Menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa
Penilaian Observasi

Lembar penilaian sikap
b.  Memiliki sikap tanggung jawab] peduli, responsif, dan santun dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk membuat anekdot baik melalui lisan maupun tulisan dengan kreatif
1.    Penilaian Observasi kinerja penulisan laporan.
1.     Tes tertulis.
2.     Rubrik penilaian kinerja.
c.   Mengidentifikasi struktur dan kaidah pembuatan anekdot dalam bahasa bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan
d.  Menyusun dengan tepat teks anekdot baik secara lisan maupun tulisan.
1.    Latihan menyusun teks anekdot,.
1.    Lembaran tugas latihan.
2.    Rubrik penilaian latihan.



Lampiran 1 Lembar Pengamatan

LEMBAR PENGAMATAN SIKAP
Mata Pelajaran       :.................................................................................
Kelas/Semester       :.................................................................................
Tahun Ajaran          :.................................................................................
Waktu Pengamatan: ...............................................................................

Bubuhkan tanda V pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.

No.
Nama Siswa
Penggunaan Diksi
Keefektifan Kalimat
Kesesuaian konteks
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1.













2.













3













4













5














Keterangan
1                   = kurang
2                   = sedang
3                   = baik
4                   = sangat baik


Lampiran 2:  Lembar Pengamatan

LEMBAR PENGAMATAN PERKEMBANGAN AKHLAK DAN KEPRIBADIAN

Mata Pelajaran  :................................................................................
Kelas/Semester:..................................................................................
Tahun Ajaran          :..............................................................................
Waktu Pengamatan: ........................................................................
Karakter yang diintegrasikan dan dikembangkan adalah kerja keras dan tanggung jawab.

Indikator perkembangan karakter kreatif, komunikatif, dan kerja keras
1.     BT (belum tampak) jika sama sekali tidak menunjukkan usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas
2.     MT (mulai tampak) jika menunjukkan sudah ada  usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas tetapi masih sedikit dan belum ajeg/konsisten
3.     MB (mulai berkembang) jika menunjukkan ada  usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas yang  cukup sering dan mulai ajeg/konsisten
4.     MK (membudaya) jika menunjukkan adanya  usaha sungguh-sungguh  dalam menyelesaikan tugas secara terus-menerus dan ajeg/konsisten

Bubuhkan tanda V pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.

No.
Nama Siswa
Kreatif
Komunikatif
Kerja keras
BT
MT
MB
MK
BT
MT
MB
MK
BT
MT
MB
MK
1.













2.













3













4













5













6













7













10














Pedoman Peskoran

Aspek
Skor
Siswa menjawab pernyataan benar dengan alasan benar
3
Siswa menjawab pernyataan benar tapi tidak didukung oleh alasan benar
2
Siswa menjawab pernyataan salah
1
SKOR MAKSIMAL
6
Soal Nomor 2 dan 3

Rubrik penilaian
No.
Kriteria Penilaian
Skor
Bobot
1.
Pilihan kata
a.   tepat dan sesuai
b.   kurang tepat dan sesuai
c.   tidak tepat dan sesuai

3
2
1


5
2.
Kalimat
a.   mudah dipahami
b.   sedikit sulit dipahami
c.   sulit dipahami

2
1
0


3
3.
Ejaan dan tanda baca
a.   tidak ada yang salah
b.   sedikit yang salah
c.   banyak yang salah

2
1
0


2



Jakarta, Juni 2013

Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Designed By Blogger Templates - Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger