Konstruktivisme dalam Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 yang mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2013/2014
sesungguhnya adalah proses yang harus memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mengamati, menanya, menganalisis, menguji coba,
dan mengomunikasikan. Kurikulum 2013 dilakukan melalui proses
konstruktivisme, yang berbeda dengan kurikukum verbalistik yang sekadar
mengandalkan komunikasi satu arah dan hafalan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Unit
Implementasi Kurikulum, Tjipto Sumadi dalam diskusi yang digelar di
Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jumat
(14/3/2014). Hadir pula Kepala SMA Negeri 3 Jakarta, Diah Khaerani
sebagai narasumber, kepala sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013
pada tahun pelajaran 2013/2014.
Tjipto mengatakan, Kurikulum 2013
sesungguhnya berbasis pada kurikulum konstruktivisme, yang artinya
membangun jiwa anak. Konstruktivisme berarti siswa diajak untuk turut
serta dalam pembelajaran itu sendiri. "Murid memegang alat, guru
mengarahkan," ujar Tjipto di hadapan puluhan peserta diskusi.
Contoh pembelajaran berbasis Kurikulum
2013 yang cukup baik sudah dilakukan di sekolah di Kalimantan. Pada
pembelajaran tentang benda-benda penghantar panas yang baik, siswa
diminta untuk mengumpulkan berbagai macam benda, mulai dari ranting
pohon, sedotan plastik,
kertas, dan lain-lain. "Siswa mencoba sendiri apakah benda-benda itu
menjadi penghantar panas yang baik ketika ujung benda didekatkan ke
sumber panas. Siswa yang melakukan, bukan diberi tahu oleh gurunya,"
ucap Tjipto.
Ia juga mencontohkan pembelajaran berbasis konstruktivisme yang dilakukan di salah satu sekolah tingkat dasar di Amerika
Serikat. Di sana siswa diajarkan untuk menanam kentang, yang merupakan
salah satu makanan pokok masyarakat di negara tersebut. Guru mengarahkan
siswa mulai menanam dan merawat tanaman tersebut.
Selain menanam, siswa juga diajarkan
sikap mencintai lingkungan dengan tidak menggunakan pupuk non-organik
untuk menyuburkan tanaman. "Maka, guru menernakkan cacing dan siswa
diminta untuk mengambil cacing dengan tangannya dan meletakkan pada
tanaman kentang yang ditanam tadi," imbuh Tjipto.
Ia menambahkan, hal-hal tersebut yang diterapkan pada Kurikulum 2013. Tahun ini Kurikulum 2013 diterapkan untuk kelas 1, 2, 4, 5 SD/sederajat; VII, VIII SMP/sederajat; dan X, XI SMA/SMK/sederajat. (Ratih Anbarini)
Sumber: Kemdikbud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar