Pembaharuan Sistem Pendidikan di Jepang Demi Mengejar Standar Lulusan Global
Kompetisi di taraf globalisasi
semakin meningkat. Seluruh negara maju maupun berkembang di dunia saat
ini berlomba untuk menghasilkan SDM berkualitas melalui pendidikan
berdaya saing internasional, tentunya agar tak kalah dari para lulusan
berstandar global lainnya. Tak terkecuali Jepang, salah satu negara yang
selama ini mengutamakan tradisi pendekatan kurikulumnya sendiri seperti
pengutamaan bahasa ibu dibanding bahasa internasional.
Namun diakui baru-baru ini Jepang tengah diusulkan untuk mengemban sejumlah proposal
reformasi edukasi, terkait dengan peningkatan daya saing SDM dari sudut
pandang internasional untuk 2020 mendatang. Tiga poin penting yang
diajukan yakni:
Program studi bahasa Inggris mulai diperkenalkan sejak anak memasuki tahun ketiga sekolah dasar.
Menambah jumlah sekolah tingkat atas yang memberlakukan program IB (International Baccalaureate) diploma menjadi 200 sekolah.
Menambah jumlah sekolah tingkat atas yang memberlakukan program IB (International Baccalaureate) diploma menjadi 200 sekolah.
Adanya pembaharuan sistem masuk universitas di Jepang
Ketiga poin tersebut dinilai menjadi langkah besar yang patut
diperhitungkan serta diaplikasikan pada sistem pendidikan Jepang saat
ini. Tentu ada pro maupun kontra di balik tiap poin tersebut. Ini bukan
hanya soal bagaimana sistem pendidikan di Jepang menyerap poin-poin
edukasi setara internasional belaka. Ketiga poin ini justru menjadi
dasar pendidikan Jepang akan bergerak dan beradaptasi nantinya.
Program studi bahasa Inggris sejak usia dini
Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki perhatian khusus terhadap kebutuhan pendidikan seiring dengan tumbuh kembang seorang murid. Hal inilah yang menyebabkan para pengajar berkesimpulan bahwa mengajarkan bahasa Inggris di tahun ketiga sekolah dasar adalah terlalu dini. Bagaimana tidak? Selama ini bahasa Inggris mulai diajarkan pada tingkat lima atau enam sekolah dasar.
Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki perhatian khusus terhadap kebutuhan pendidikan seiring dengan tumbuh kembang seorang murid. Hal inilah yang menyebabkan para pengajar berkesimpulan bahwa mengajarkan bahasa Inggris di tahun ketiga sekolah dasar adalah terlalu dini. Bagaimana tidak? Selama ini bahasa Inggris mulai diajarkan pada tingkat lima atau enam sekolah dasar.
Salah seorang ilmuwan yang berpengalaman di bidang pembelajaran
bahasa, Prof. Yukio Otsu berpendapat bahwa seharusnya pada usia 8-9
tahun (tingkat tiga sekolah dasar) anak diajarkan dasar-dasar ilmu
dengan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar. Ini mungkin akan membutuhkan
waktu dan biaya yang lebih besar. Namun ia percaya, cara ini akan
membentuk penguasaan bahasa yang lebih baik bagi anak sehingga
pembelajaran bahasa asing lainnya akan lebih mudah diserap di kemudian
hari.
Pendapat berbeda dikemukakan Prof. Emiko Yukawa pada media The Japan Times. “Sesungguhnya,
rasa kepercayaan diri anak baru akan tumbuh saat menginjak usia sekolah
dasar tingkat lima dan enam. Jadi ada baiknya pembelajaran bahasa
Inggris dimulai semenjak usia tingkat tiga sekolah dasar.”
Dengan diberlakukannya sistem ini, Jepang otomatis harus
mempersiapkan guru dengan kompetensi bahasa Inggris yang baik serta
mampu mengajar anak usia sekolah dasar untuk 22.000 sekolah dasar yang
tersebar di seluruh pelosok Jepang. Jumlah ini memang cukup banyak,
yakni dua kali lipat jumlah sekolah tingkat menengah serta empat kali
lipat jumlah sekolah tingkat atas. Untuk itu, diperlukan persiapan
menyeluruh terkait guru dan pengajar tambahan, serta penambahan
poin-poin tertentu ke dalam kurikulum yang sudah ada saat ini. Pada
bulan Juli-Agustus tahun ini, pemerintah Jepang berjanji untuk
menyelesaikan sebagian besar poin-poin tersebut.
Adanya program International Baccalaureate diploma untuk sekolah tingkat atas
Seiring dengan kebutuhan akan pendidikan bersistem globalisasi dan menyeluruh, proposal ini juga mendorong pemerintah Jepang agar menyediakan program IB diploma—program penyetaraan tingkat internasional bagi murid sekolah dengan rentang usia 16-19 tahun untuk 200 sekolah tingkat atas. Program ini memiliki sifat ‘berbasis penyetaraan kurikulum’ serta bertujuan agar siswa lebih dapat mempersiapkan dirinya menuju jenjang selanjutnya yakni universitas.
Seiring dengan kebutuhan akan pendidikan bersistem globalisasi dan menyeluruh, proposal ini juga mendorong pemerintah Jepang agar menyediakan program IB diploma—program penyetaraan tingkat internasional bagi murid sekolah dengan rentang usia 16-19 tahun untuk 200 sekolah tingkat atas. Program ini memiliki sifat ‘berbasis penyetaraan kurikulum’ serta bertujuan agar siswa lebih dapat mempersiapkan dirinya menuju jenjang selanjutnya yakni universitas.
Saat ini, Jepang hanya memiliki sekitar 16 sekolah yang telah
menerapkan program IB diploma. Salah satu kendala yang cukup sering
terjadi dan menghambat diberlakukannya program ini lebih lanjut yakni
minimnya jumlah english native speaker selaku guide teacher, yang
merupakan salah satu syarat penting dalam program ini.
Periset Iwaki Kumiko berpendapat bahwa pemberlakuan program IB
diploma bagi 200 sekolah sesuai dengan yang diajukan bukanlah hal
mustahil. Hal ini dapat diatasi dengan menambahkan bahasa Jepang ke
dalam kurikulum IB yang telah ada, disebut juga dengan Japanese Dual
Language IB Diploma Program (disingkat Japanese DP). Dengan adanya
adopsi bahasa tersebut, diharapkan guru yang tidak fasih berbahasa
Inggris nantinya masih dapat mengajar bidang studinya dalam bahasa
Jepang. Tentunya penambahan ini perlu diimbangi dengan program lainnya
yakni Japan Exchange and Teaching Program (JET) alias program pertukaran
tenaga pengajar asing dengan pengajar asli Jepang; sehingga nantinya
sekolah takkan lagi kekurangan english native speaker.
Pembaharuan sistem masuk universitas di Jepang
Selain dua poin di atas, pemerintah Jepang juga menilai bahwa sistem masuk universitas di Jepang mesti diperbarui demi meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Selain dua poin di atas, pemerintah Jepang juga menilai bahwa sistem masuk universitas di Jepang mesti diperbarui demi meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Telah kita ketahui sebelumnya bahwa sistem masuk universitas di
Jepang kebanyakan hanya mensyaratkan satu ujian masuk untuk menyaring
mahasiswa. Dengan diterapkannya sistem ini, nantinya sistem masuk
tersebut terpecah menjadi serangkaian tes yang akan diuji sepanjang
tahun. Tes tersebut juga meliputi serangkaian wawancara untuk menguji
kemampuan berpikir mahasiswa, serta adanya TOEFL yang menjadi standar
masuk universitas.
Ada banyak pihak yang menyayangkan jika sistem ini nantinya
diberlakukan dan diterapkan. Tak menutup kemungkinan nantinya mahasiswa
hanya akan mempelajari dan mempersiapkan diri untuk ujian yang nantinya
akan dilaksanakan sepanjang tahun, ketimbang mengeksplorasi bidang studi
yang ia geluti secara fleksibel. Kesulitan lainnya ialah Jepang tak
yakin memiliki tenaga pengajar andal yang cukup untuk mengawasi tiap
mahasiswa sepanjang tahun selayaknya ujian yang biasa diberlakukan. Di
lain pihak, mahasiswa sendiri pasti akan stres dengan adanya serangkaian
ujian di tahun pertama masuk universitas tersebut.
Pendapat lainnya dikemukakan seorang peneliti edukasi dari Benesse
Research Corporation, Kazuo Maruyama. Ia berpendapat bahwa dengan
peraturan ini, pendidikan Jepang nantinya tak ubahnya mengejar dan
menitikberatkan kepada sudut pandang akademis belaka, mulai dari
menginjak taman kanak-kanak hingga tingkat universitas.
Sesungguhnya tak hanya Jepang yang menjadi negara target implementasi
perombakan kurikulum demi menghasilkan target SDM kualitas global.
Negara lain pun kini tengah berkutat dengan hal yang sama. Sebut saja
Indonesia, dengan pembaharuan kurikulum setiap tahunnya yang dinyana
dapat memperbaiki kualitas lulusan SDM dari tahun ke tahun.
Bagaimanapun juga, masing-masing dari pemerintah berharap bahwa
langkah ini setidaknya dapat memajukan kualitas lulusan pendidikan di
negerinya dari tahun ke tahun agar tak kalah bersaing dari lulusan
global lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar