Trending

Jumat, 14 Maret 2014

PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN DI JEPANG DEMI MENGEJAR STANDAR LULUSAN GLOBAL

Pembaharuan Sistem Pendidikan di Jepang Demi Mengejar Standar Lulusan Global
teguhsetiawan41.blogspot
Kompetisi di taraf globalisasi semakin meningkat. Seluruh negara maju maupun berkembang di dunia saat ini berlomba untuk menghasilkan SDM berkualitas melalui pendidikan berdaya saing internasional, tentunya agar tak kalah dari para lulusan berstandar global lainnya. Tak terkecuali Jepang, salah satu negara yang selama ini mengutamakan tradisi pendekatan kurikulumnya sendiri seperti pengutamaan bahasa ibu dibanding bahasa internasional.
Namun diakui baru-baru ini Jepang tengah diusulkan untuk mengemban sejumlah proposal reformasi edukasi, terkait dengan peningkatan daya saing SDM dari sudut pandang internasional untuk 2020 mendatang. Tiga poin penting yang diajukan yakni:
Program studi bahasa Inggris mulai diperkenalkan sejak anak memasuki tahun ketiga sekolah dasar.
Menambah jumlah sekolah tingkat atas yang memberlakukan program IB (International Baccalaureate) diploma menjadi 200 sekolah.
Adanya pembaharuan sistem masuk universitas di Jepang
Ketiga poin tersebut dinilai menjadi langkah besar yang patut diperhitungkan serta diaplikasikan pada sistem pendidikan Jepang saat ini. Tentu ada pro maupun kontra di balik tiap poin tersebut. Ini bukan hanya soal bagaimana sistem pendidikan di Jepang menyerap poin-poin edukasi setara internasional belaka. Ketiga poin ini justru menjadi dasar pendidikan Jepang akan bergerak dan beradaptasi nantinya.
Program studi bahasa Inggris sejak usia dini
Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki perhatian khusus terhadap kebutuhan pendidikan seiring dengan tumbuh kembang seorang murid. Hal inilah yang menyebabkan para pengajar berkesimpulan bahwa mengajarkan bahasa Inggris di tahun ketiga sekolah dasar adalah terlalu dini. Bagaimana tidak? Selama ini bahasa Inggris mulai diajarkan pada tingkat lima atau enam sekolah dasar.
Salah seorang ilmuwan yang berpengalaman di bidang pembelajaran bahasa, Prof. Yukio Otsu berpendapat bahwa seharusnya pada usia 8-9 tahun (tingkat tiga sekolah dasar) anak diajarkan dasar-dasar ilmu dengan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar. Ini mungkin akan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar. Namun ia percaya, cara ini akan membentuk penguasaan bahasa yang lebih baik bagi anak sehingga pembelajaran bahasa asing lainnya akan lebih mudah diserap di kemudian hari.
Pendapat berbeda dikemukakan Prof. Emiko Yukawa pada media The Japan Times. “Sesungguhnya, rasa kepercayaan diri anak baru akan tumbuh saat menginjak usia sekolah dasar tingkat lima dan enam. Jadi ada baiknya pembelajaran bahasa Inggris dimulai semenjak usia tingkat tiga sekolah dasar.
Dengan diberlakukannya sistem ini, Jepang otomatis harus mempersiapkan guru dengan kompetensi bahasa Inggris yang baik serta mampu mengajar anak usia sekolah dasar untuk 22.000 sekolah dasar yang tersebar di seluruh pelosok Jepang. Jumlah ini memang cukup banyak, yakni dua kali lipat jumlah sekolah tingkat menengah serta empat kali lipat jumlah sekolah tingkat atas. Untuk itu, diperlukan persiapan menyeluruh terkait guru dan pengajar tambahan, serta penambahan poin-poin tertentu ke dalam kurikulum yang sudah ada saat ini. Pada bulan Juli-Agustus tahun ini, pemerintah Jepang berjanji untuk menyelesaikan sebagian besar poin-poin tersebut.
Adanya program International Baccalaureate diploma untuk sekolah tingkat atas
Seiring dengan kebutuhan akan pendidikan bersistem globalisasi dan menyeluruh, proposal ini juga mendorong pemerintah Jepang agar menyediakan program IB diploma—program penyetaraan tingkat internasional bagi murid sekolah dengan rentang usia 16-19 tahun untuk 200 sekolah tingkat atas. Program ini memiliki sifat ‘berbasis penyetaraan kurikulum’ serta bertujuan agar siswa lebih dapat mempersiapkan dirinya menuju jenjang selanjutnya yakni universitas.
Saat ini, Jepang hanya memiliki sekitar 16 sekolah yang telah menerapkan program IB diploma. Salah satu kendala yang cukup sering terjadi dan menghambat diberlakukannya program ini lebih lanjut yakni minimnya jumlah english native speaker selaku guide teacher, yang merupakan salah satu syarat penting dalam program ini.
Periset Iwaki Kumiko berpendapat bahwa pemberlakuan program IB diploma bagi 200 sekolah sesuai dengan yang diajukan bukanlah hal mustahil. Hal ini dapat diatasi dengan menambahkan bahasa Jepang ke dalam kurikulum IB yang telah ada, disebut juga dengan Japanese Dual Language IB Diploma Program (disingkat Japanese DP). Dengan adanya adopsi bahasa tersebut, diharapkan guru yang tidak fasih berbahasa Inggris nantinya masih dapat mengajar bidang studinya dalam bahasa Jepang. Tentunya penambahan ini perlu diimbangi dengan program lainnya yakni Japan Exchange and Teaching Program (JET) alias program pertukaran tenaga pengajar asing dengan pengajar asli Jepang; sehingga nantinya sekolah takkan lagi kekurangan english native speaker.
Pembaharuan sistem masuk universitas di Jepang
Selain dua poin di atas, pemerintah Jepang juga menilai bahwa sistem masuk universitas di Jepang mesti diperbarui demi meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Telah kita ketahui sebelumnya bahwa sistem masuk universitas di Jepang kebanyakan hanya mensyaratkan satu ujian masuk untuk menyaring mahasiswa. Dengan diterapkannya sistem ini, nantinya sistem masuk tersebut terpecah menjadi serangkaian tes yang akan diuji sepanjang tahun. Tes tersebut juga meliputi serangkaian wawancara untuk menguji kemampuan berpikir mahasiswa, serta adanya TOEFL yang menjadi standar masuk universitas.
Ada banyak pihak yang menyayangkan jika sistem ini nantinya diberlakukan dan diterapkan. Tak menutup kemungkinan nantinya mahasiswa hanya akan mempelajari dan mempersiapkan diri untuk ujian yang nantinya akan dilaksanakan sepanjang tahun, ketimbang mengeksplorasi bidang studi yang ia geluti secara fleksibel. Kesulitan lainnya ialah Jepang tak yakin memiliki tenaga pengajar andal yang cukup untuk mengawasi tiap mahasiswa sepanjang tahun selayaknya ujian yang biasa diberlakukan. Di lain pihak, mahasiswa sendiri pasti akan stres dengan adanya serangkaian ujian di tahun pertama masuk universitas tersebut.
Pendapat lainnya dikemukakan seorang peneliti edukasi dari Benesse Research Corporation, Kazuo Maruyama. Ia berpendapat bahwa dengan peraturan ini, pendidikan Jepang nantinya tak ubahnya mengejar dan menitikberatkan kepada sudut pandang akademis belaka, mulai dari menginjak taman kanak-kanak hingga tingkat universitas.
Sesungguhnya tak hanya Jepang yang menjadi negara target implementasi perombakan kurikulum demi menghasilkan target SDM kualitas global. Negara lain pun kini tengah berkutat dengan hal yang sama. Sebut saja Indonesia, dengan pembaharuan kurikulum setiap tahunnya yang dinyana dapat memperbaiki kualitas lulusan SDM dari tahun ke tahun.
Bagaimanapun juga, masing-masing dari pemerintah berharap bahwa langkah ini setidaknya dapat memajukan kualitas lulusan pendidikan di negerinya dari tahun ke tahun agar tak kalah bersaing dari lulusan global lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Designed By Blogger Templates - Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger